Skn Bukan KKN
Jadi di sekolah ku tercinta SMAIT ASH-SHOHWAH itu punya program untuk anak kelas XI namanya SKN kepanjangan dari Sekolah Kerja Nyata. Disitu kami satu angkatan akan dibuang eh maksudku diantar ke desa dan akan tinggal disana selama satu bulan lamanya. Yah tentunya dengan berbagai macam larangan dan keterbatasan.
Jadi beberapa larangannya Selama satu bulan itu:
kami tidak boleh menghubungi orang tua apalagi sampai bertemu.
Hanya boleh membawa uang Rp.100.000,- saja, jika ketahuan lebih maka seluruh uangnya akan diambil jadi dia gak punya uang untuk satu bulan kedepan.
Tidak boleh membawa barang elektronik seperti handphone, laptop kecuali ketua yang kami sebut kordes (koordinator desa) itupun kordes menggunakan hp kecil atau curut yang hanya bisa untuk nelpon dan sms saja.
Oh ya kami juga tidak boleh membawa kosmetik hanya boleh skincare, memakai parfum juga tidak boleh ya kawan, kecuali kispray.
Kalau udah diatur-atur itu pasti sebel, pokoknya gemes deh pengennya menggerutu aja. Wkkwk.... tapi apa sih, kita ini suka betul tidak terima, suka betul menggerutu, padahal Allah merencanakan setiap jalan kehidupan kita penuh dengan hikmah dan pembelajaran.
Yah begitulah manusia tempatnya lupa. Jujur aja ya seminggu sebelum SKN aku sering berfikir apakah aku sanggup jauhhh jauhhh dan jauh dari semua milikku. Sanggupkah diriku atau harus mengulang di tahun depan, hiii itu lebih mengerikan siapapun pastinya tidak ingin tidak lulus dan mengulang.
Entah aku yang cengeng atau apa kadang saat hening malam kadang ada sedikit kesedihan dan ketakutan akan jauh dari ummi dan adikku selama satu bulan sanggupkah diriku ini? Pertanyaan ini sering menghantuiku.
Aku jadi rajin bersih-bersih karena sebentar lagi kan aku akan pergi pastinya gak bisa bantuin ummi lagi.
Tibalah hari itu, hari dimana kami harus berangkat dan pergi ke desa. Oh ya angkatan ku dapatnya di Kecamatan Talisayan di Kampung Bumi Jaya dan Campur Sari. Di bis selama perjalan aku sedih banget. Diam-diam air mataku jatuh dengan sendirinya. Tapi itu bukan aku aja, kami semua larut dalam kesedihan, beberapa ada yang suara tangisnya bahkan terdengar. Yah itu adalah hal biasa dalam perpisahan.
Kami berangkat jam 09.00 pagi dan sampai jam 17.00 sore kemudian kami melakukan pembukaan. Malamnya kami pembagian posko diantar ke rumah orang tua asuh masing-masing menggunakan mobil. Aku sekelompok dengan Vivi, Bunga, dan Icha. Kami adalah posko pertama yang diturunkan. Kami bersalaman dengan ibu dan bapak asuh. Kami mengobrol tapi masih sangat canggung. Akhirnya kami diantar ke kamar untuk istirahat. Alhamdulillah kami dapat rumah yang nyaman dan pemiliknya sangat ramah.
Oh ya, jadi aku mau cerita kan ini dengan 2 cerita yang berbeda ya...
Cerita 1 :
Penghapus lara
Pernahkah engkau tersakiti hingga membuat semuanya seakan runtuh dihadapanmu, menahannya hanya akan membuat hatimu semakin retak laksana serpihan kaca karena telah dihantam pemiliknya hingga hancur berkeping–keping, namun akan datang keajaiban yang akan memperbaikinya, yang runtuh akan diberi fondasi dan yang hancur akan diisolasi. Itulah dia datang sebagai penghapus lara. Siapakah dia? Hanya perangai sederhana. "Berikanlah kebahagiaan untuk orang lain maka luka yang engkau miliki akan segera terobati".
Hari ini hari selasa hari dimana banyak cerita di dalamya yah tentunya cerita bermakna. Jika cerita tanpa makna rasanya akan tawar dan menjemukan. Makanya aku suka banget slogan SKN (Sekolah Kerja Nyata) kami bunyinya seperti ini " Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru dan apapun yang pernah kita lalui atau dapati adalah pelajaran. Jika kita mau membuka mata dan hati untuk senatiasa menjadi hamba Allah yang berfikir dan belajar".
Oh ya kala itu adalah 5 hari sebelum penutupan SKN kami. Aku dan teman – teman kelompokku Icha, Vivi, dan Bunga merencanakan untuk berkeliling kerumah tetangga untuk izin pamit karena sebentar lagi kami akan balik ke Tanjung. Saat itu jam menunjukkan pukul 10.30 keadaan sangat panas akhirnya setelah berfikir keras kami dapat ide meminjam sepeda ke tetangga dan syukurlah tetangga tersebut mau meminjamkan. Alhamdulillah dimudahkan silaturahim-nya.
Siangnya kami dibawa ke rumah ibu Ayu oleh ibu Jen, disana kami disuguhi banyak sekali cemilan. Terhentak aku sadar harus pergi ke rumah muridku untuk mengajar karantina tahfidz. Sebenarnya aku sedih kesana sendiri, namun harus bagaimana? keadaan lagi-lagi memaksa. Segera aku pamit izin pulang deluan ke teman-teman dan segera menaiki sepeda kemudian pergi kerumah muridku itu. Ku mengayuh sepeda itu perlahan namun rasa lelah mulai mendera diriku, dibawah terik matahari siang semakin membuatku penat.
Sesampainya disana aku bertanya pada ayah sang murid "ada anak-nya kah pak?" ayahnya berkata "masuklah. Dia sedang menghafal bersama ibunya". Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin 15 menit sudah aku hanya mendengar dari balik tembok. Ayahnya pun mendatangi ibu dan anak tersebut, namun terjadi sedikit percakapan tidak terlalu keras namun aku mendengar, ya aku mendengar bahwa ada ketidaksukaan di dalamnya. Mungkinkah ini salah paham. Tapi siapa sebenarnya yang salah paham apakah aku atau kamu batinku bergejolak tidak terima. Diusir secara halus itulah yang kurasa.
Kecewa. sepulang dari rumah itu. Aku kembali mengayuh sepeda ku dan berhenti pada sebuah jembatan. Aku berdiri di samping jembatan, aku tidak bermaksud menangis tapi aku sedih. Tak bisa kupungkiri bahwa aku sangat terluka. Ku lihat air bening yang mengalir dibawah sana. Syahdu, sunyi dan tenang. Baiklah aku tidak bisa lama-lama disini ku kayuh kembali sepedaku.
Tak lama aku bertemu seorang nenek. Aku mencoba menyapa "hendak kemana nek?" tanyaku . "nenek hendak ke warung nak" jawab sang nenek. "mari nek ikut saya". "nenek mau kewarung mana?" tanyaku saat dijalan. "ke warung pak Jono". "wah sama dong saya juga tinggal di tempat pak Jono kita satu tujuan nek." Dijalan banyak sekali percakapan terutama tentang SKN ku. Hmmm yah aku sangat senang walau jiwa dan raga ku sangat lelah namun, aku sekarang tau bahwa ada satu rumus "ketika engkau kecewa maka untuk menyembuhkannya berikanlah kebahagiaan untuk orang lain". Sebelumnya cerita ini aku rahasiakan dari teman teman ku namun ku ceritakan saat evaluasi esok harinya.
Sebenarnya cerita ini tidak hanya sampai disini, lagi-lagi kesabaranku diuji. Anak yang cukup aku perjuangkan ini juga tidak ingin tampil di 2 hari sebelum penutupan. Disitu aku ngedown, nyesek banget deh pokoknya aagh pokoknya aku hanya bisa bersabar aja. Rasanya ingin ku marah ingin ku katakan kalau tidak bisa tolong ucapkan dari awal jangan membuatku terlalu berharap.
Aku pernah tanya ke temanku Icha "Cha kenapa masalah ini datang bertubu-tubi". "Mungkin karena kita sudah terlalu banyak bahagia" jawabnya. Untuk bisa melihat apa hikmah yang bisa diambil tentunya dengan membuka mata dan hati. Sadar gak sadar kawan kebahagiaan dan kesedihan itu seimbang. Jadi tetaplah bersyukur saat bahagia dan bersabar saat bersedih.
Cerita 2:
Tulus
Tulus hanyalah kata sederhana namun, memiliki makna mendalam bagi pemiliknya. Tulus memiliki ikatan jelas antara ikhlas, jujur, dan sukarela. Tulus akan mengajarkan kita menjadi dewasa.
Aku sedikit kaget karena 2 minggu sebelum acara penutupan SKN, kegiatanku menjadi sangat padat dan melelahkan. Kami gantian untuk menjaga toko, dilanjut mengajar karantina siang dan sore, lanjut mengajar TPA di malam hari, serta kegiatan tambahan lainnya. Bagiku mengajar bukanlah hal yang mudah. Kali ini aku benar-benar merasakannya. Betapa melelahkan, belum lagi jika murid mulai kambuh kejahilannya.
Hari ini aku kembali mengajar karantina bersama teman seposko. Sejujurnya kami sedang merasa takut karena mereka seperti mulai tidak bersemangat akhirnya ada yang mengajar dan ada yang membuat sanggar untuk adek adek itu. Ya semua dilakukan agar mereka bahagia. Karena dengan mereka bahagia kami pun bisa mengajar dengan bahagia pula. Keesokannya mereka datang sangat cepat sekali bahkan aku dan kawan kawan belum bersiap mereka sudah ada di depan berteriak memanggil nama kami. Aduh betapa semangatnya. Tapi itu membuatku senang.
Kami dengan adek binaan karantina semakin hari semakin dekat. Kami pernah mencok bersama, kakak-kakaknya membuat bumbu dan adik adiknya mencari buah. Aku suka hal sederhana itu. Suatu hari terjadi evaluasi besar besaran. Ustadzah meminta kami untuk menampilkan Juz 30 dari An-Naas – An-Naba padahal kami sudah sepakatin An-Naas – Ad-Duha. Kaget bukan kepalang diriku ini. Entah lah bibirku memang tersenyum tapi pikiran dan hatiku kacau seketika. Bahkan salah seorang temanku mengatakan "kamu kenapa kok SKN malah terlihat semakin oleng". Aku hanya menanggapi dengan melihatnya saja tak bernafsu untuk membalas.
Di jalan pulang aku terus memikirkan hal ini. Bagaimana membuat mereka paham. Mereka sudah latihan menghafal setengah mati. Sekarang mereka harus diseleksi siapa yang akan tampil dan siapa yang tidak. Aku tidak suka itu. Sorenya saat aku akan mengajar kembali aku mengatakan hal itu. Berusaha untuk tidak membuat mereka kecewa. Tapi aku tau mereka kecewa akhirnya biarlah hari ini menjadi milik kita. Aku membawa mereka jalan kaki jauh sekali mungkin 2 km kami berjalan. Jauh bukan, bahkan aku sudah memprediksi kaki ku akan sakit luar biasa nanti malam. Kami melihat pemandangan senja, tertawa, berlari, mengobrol bersama, setidaknya aku harus melupakan segala kepenatan hari ini.
Malam harinya diriku sangat pusing, pikiranku masih kacau. Bagaimana mereka akan tampil dengan segala hal yang juga kacau. Doa, usaha semua ku kerahkan. Bibir ini tak berhenti meminta pertolongan Yang Maha Kuasa. Ketakutan sering kali datang menghantui ditambah dengan menyebarnya banyak gosip murahan tentang posko kami. (oh ya kalian harus tau bahwa dimanapun kalian berada pasti akan banyak gosip apalagi serumah dengan teman-teman selama berminggu-minggu dan gosip dari posko yang lain. makanya aku itu suka banget quotes Ali bin Abi Thalib yang bunyinya "Tidak perlu menjelaskan dirimu kepada siapapun , karena yang membencimu tak mempercayainya dan yang menyukaimu tak perlu itu" adem banget yah quotesnya.
Lama sekali kami memikirkan hal ini. Keesokan malam kami bertemu ustadzah. Alhamdulillah ustadzah mau memberi sedikit kelonggaran rasanya beban ini sedikit ringan.
Sebelum penutupan mereka akan melakukan penampilan di Masjid Nurul Huda saat acara Maulid Nabi yah anggap aja sebagai gladi bersih. Mereka tampil namun sesekali mereka melakukan kesalahan. Selesai tampil eh mereka minta maaf gara-gara banyak salahnya ada yang gugup, takut, langsung lupa. Kesel sih, tapi aku sangat tau mereka sudah berusaha aku pun juga begitu kalau pertama-tama tampil.
Kawan dari cerita sederhana ini sebenarnya aku ingin kita menyadari bahwa peran guru terhadap hidup kita sungguh luar biasa. Mereka mengajar dengan tulus. Saydina Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu mengatakan "Dia yang mengajariku seayat ilmu, sungguh memiliki hak untuk memperbudakku." Jelas sekali ya bahwa orang yang sholeh akan sangat memuliakan guru-nya. Semoga kita selalu bisa menghormati serta mendoakan guru kita dan kita bisa menjadi pribadi yang selalu tulus dalam melakukan sesuatu. Aamiin...
Jadi di sekolah ku tercinta SMAIT ASH-SHOHWAH itu punya program untuk anak kelas XI namanya SKN kepanjangan dari Sekolah Kerja Nyata. Disitu kami satu angkatan akan dibuang eh maksudku diantar ke desa dan akan tinggal disana selama satu bulan lamanya. Yah tentunya dengan berbagai macam larangan dan keterbatasan.
Jadi beberapa larangannya Selama satu bulan itu:
kami tidak boleh menghubungi orang tua apalagi sampai bertemu.
Hanya boleh membawa uang Rp.100.000,- saja, jika ketahuan lebih maka seluruh uangnya akan diambil jadi dia gak punya uang untuk satu bulan kedepan.
Tidak boleh membawa barang elektronik seperti handphone, laptop kecuali ketua yang kami sebut kordes (koordinator desa) itupun kordes menggunakan hp kecil atau curut yang hanya bisa untuk nelpon dan sms saja.
Oh ya kami juga tidak boleh membawa kosmetik hanya boleh skincare, memakai parfum juga tidak boleh ya kawan, kecuali kispray.
Kalau udah diatur-atur itu pasti sebel, pokoknya gemes deh pengennya menggerutu aja. Wkkwk.... tapi apa sih, kita ini suka betul tidak terima, suka betul menggerutu, padahal Allah merencanakan setiap jalan kehidupan kita penuh dengan hikmah dan pembelajaran.
Yah begitulah manusia tempatnya lupa. Jujur aja ya seminggu sebelum SKN aku sering berfikir apakah aku sanggup jauhhh jauhhh dan jauh dari semua milikku. Sanggupkah diriku atau harus mengulang di tahun depan, hiii itu lebih mengerikan siapapun pastinya tidak ingin tidak lulus dan mengulang.
Entah aku yang cengeng atau apa kadang saat hening malam kadang ada sedikit kesedihan dan ketakutan akan jauh dari ummi dan adikku selama satu bulan sanggupkah diriku ini? Pertanyaan ini sering menghantuiku.
Aku jadi rajin bersih-bersih karena sebentar lagi kan aku akan pergi pastinya gak bisa bantuin ummi lagi.
Tibalah hari itu, hari dimana kami harus berangkat dan pergi ke desa. Oh ya angkatan ku dapatnya di Kecamatan Talisayan di Kampung Bumi Jaya dan Campur Sari. Di bis selama perjalan aku sedih banget. Diam-diam air mataku jatuh dengan sendirinya. Tapi itu bukan aku aja, kami semua larut dalam kesedihan, beberapa ada yang suara tangisnya bahkan terdengar. Yah itu adalah hal biasa dalam perpisahan.
Kami berangkat jam 09.00 pagi dan sampai jam 17.00 sore kemudian kami melakukan pembukaan. Malamnya kami pembagian posko diantar ke rumah orang tua asuh masing-masing menggunakan mobil. Aku sekelompok dengan Vivi, Bunga, dan Icha. Kami adalah posko pertama yang diturunkan. Kami bersalaman dengan ibu dan bapak asuh. Kami mengobrol tapi masih sangat canggung. Akhirnya kami diantar ke kamar untuk istirahat. Alhamdulillah kami dapat rumah yang nyaman dan pemiliknya sangat ramah.
Oh ya, jadi aku mau cerita kan ini dengan 2 cerita yang berbeda ya...
Cerita 1 :
Penghapus lara
Pernahkah engkau tersakiti hingga membuat semuanya seakan runtuh dihadapanmu, menahannya hanya akan membuat hatimu semakin retak laksana serpihan kaca karena telah dihantam pemiliknya hingga hancur berkeping–keping, namun akan datang keajaiban yang akan memperbaikinya, yang runtuh akan diberi fondasi dan yang hancur akan diisolasi. Itulah dia datang sebagai penghapus lara. Siapakah dia? Hanya perangai sederhana. "Berikanlah kebahagiaan untuk orang lain maka luka yang engkau miliki akan segera terobati".
Hari ini hari selasa hari dimana banyak cerita di dalamya yah tentunya cerita bermakna. Jika cerita tanpa makna rasanya akan tawar dan menjemukan. Makanya aku suka banget slogan SKN (Sekolah Kerja Nyata) kami bunyinya seperti ini " Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru dan apapun yang pernah kita lalui atau dapati adalah pelajaran. Jika kita mau membuka mata dan hati untuk senatiasa menjadi hamba Allah yang berfikir dan belajar".
Oh ya kala itu adalah 5 hari sebelum penutupan SKN kami. Aku dan teman – teman kelompokku Icha, Vivi, dan Bunga merencanakan untuk berkeliling kerumah tetangga untuk izin pamit karena sebentar lagi kami akan balik ke Tanjung. Saat itu jam menunjukkan pukul 10.30 keadaan sangat panas akhirnya setelah berfikir keras kami dapat ide meminjam sepeda ke tetangga dan syukurlah tetangga tersebut mau meminjamkan. Alhamdulillah dimudahkan silaturahim-nya.
Siangnya kami dibawa ke rumah ibu Ayu oleh ibu Jen, disana kami disuguhi banyak sekali cemilan. Terhentak aku sadar harus pergi ke rumah muridku untuk mengajar karantina tahfidz. Sebenarnya aku sedih kesana sendiri, namun harus bagaimana? keadaan lagi-lagi memaksa. Segera aku pamit izin pulang deluan ke teman-teman dan segera menaiki sepeda kemudian pergi kerumah muridku itu. Ku mengayuh sepeda itu perlahan namun rasa lelah mulai mendera diriku, dibawah terik matahari siang semakin membuatku penat.
Sesampainya disana aku bertanya pada ayah sang murid "ada anak-nya kah pak?" ayahnya berkata "masuklah. Dia sedang menghafal bersama ibunya". Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin 15 menit sudah aku hanya mendengar dari balik tembok. Ayahnya pun mendatangi ibu dan anak tersebut, namun terjadi sedikit percakapan tidak terlalu keras namun aku mendengar, ya aku mendengar bahwa ada ketidaksukaan di dalamnya. Mungkinkah ini salah paham. Tapi siapa sebenarnya yang salah paham apakah aku atau kamu batinku bergejolak tidak terima. Diusir secara halus itulah yang kurasa.
Kecewa. sepulang dari rumah itu. Aku kembali mengayuh sepeda ku dan berhenti pada sebuah jembatan. Aku berdiri di samping jembatan, aku tidak bermaksud menangis tapi aku sedih. Tak bisa kupungkiri bahwa aku sangat terluka. Ku lihat air bening yang mengalir dibawah sana. Syahdu, sunyi dan tenang. Baiklah aku tidak bisa lama-lama disini ku kayuh kembali sepedaku.
Tak lama aku bertemu seorang nenek. Aku mencoba menyapa "hendak kemana nek?" tanyaku . "nenek hendak ke warung nak" jawab sang nenek. "mari nek ikut saya". "nenek mau kewarung mana?" tanyaku saat dijalan. "ke warung pak Jono". "wah sama dong saya juga tinggal di tempat pak Jono kita satu tujuan nek." Dijalan banyak sekali percakapan terutama tentang SKN ku. Hmmm yah aku sangat senang walau jiwa dan raga ku sangat lelah namun, aku sekarang tau bahwa ada satu rumus "ketika engkau kecewa maka untuk menyembuhkannya berikanlah kebahagiaan untuk orang lain". Sebelumnya cerita ini aku rahasiakan dari teman teman ku namun ku ceritakan saat evaluasi esok harinya.
Sebenarnya cerita ini tidak hanya sampai disini, lagi-lagi kesabaranku diuji. Anak yang cukup aku perjuangkan ini juga tidak ingin tampil di 2 hari sebelum penutupan. Disitu aku ngedown, nyesek banget deh pokoknya aagh pokoknya aku hanya bisa bersabar aja. Rasanya ingin ku marah ingin ku katakan kalau tidak bisa tolong ucapkan dari awal jangan membuatku terlalu berharap.
Aku pernah tanya ke temanku Icha "Cha kenapa masalah ini datang bertubu-tubi". "Mungkin karena kita sudah terlalu banyak bahagia" jawabnya. Untuk bisa melihat apa hikmah yang bisa diambil tentunya dengan membuka mata dan hati. Sadar gak sadar kawan kebahagiaan dan kesedihan itu seimbang. Jadi tetaplah bersyukur saat bahagia dan bersabar saat bersedih.
Cerita 2:
Tulus
Tulus hanyalah kata sederhana namun, memiliki makna mendalam bagi pemiliknya. Tulus memiliki ikatan jelas antara ikhlas, jujur, dan sukarela. Tulus akan mengajarkan kita menjadi dewasa.
Aku sedikit kaget karena 2 minggu sebelum acara penutupan SKN, kegiatanku menjadi sangat padat dan melelahkan. Kami gantian untuk menjaga toko, dilanjut mengajar karantina siang dan sore, lanjut mengajar TPA di malam hari, serta kegiatan tambahan lainnya. Bagiku mengajar bukanlah hal yang mudah. Kali ini aku benar-benar merasakannya. Betapa melelahkan, belum lagi jika murid mulai kambuh kejahilannya.
Hari ini aku kembali mengajar karantina bersama teman seposko. Sejujurnya kami sedang merasa takut karena mereka seperti mulai tidak bersemangat akhirnya ada yang mengajar dan ada yang membuat sanggar untuk adek adek itu. Ya semua dilakukan agar mereka bahagia. Karena dengan mereka bahagia kami pun bisa mengajar dengan bahagia pula. Keesokannya mereka datang sangat cepat sekali bahkan aku dan kawan kawan belum bersiap mereka sudah ada di depan berteriak memanggil nama kami. Aduh betapa semangatnya. Tapi itu membuatku senang.
Kami dengan adek binaan karantina semakin hari semakin dekat. Kami pernah mencok bersama, kakak-kakaknya membuat bumbu dan adik adiknya mencari buah. Aku suka hal sederhana itu. Suatu hari terjadi evaluasi besar besaran. Ustadzah meminta kami untuk menampilkan Juz 30 dari An-Naas – An-Naba padahal kami sudah sepakatin An-Naas – Ad-Duha. Kaget bukan kepalang diriku ini. Entah lah bibirku memang tersenyum tapi pikiran dan hatiku kacau seketika. Bahkan salah seorang temanku mengatakan "kamu kenapa kok SKN malah terlihat semakin oleng". Aku hanya menanggapi dengan melihatnya saja tak bernafsu untuk membalas.
Di jalan pulang aku terus memikirkan hal ini. Bagaimana membuat mereka paham. Mereka sudah latihan menghafal setengah mati. Sekarang mereka harus diseleksi siapa yang akan tampil dan siapa yang tidak. Aku tidak suka itu. Sorenya saat aku akan mengajar kembali aku mengatakan hal itu. Berusaha untuk tidak membuat mereka kecewa. Tapi aku tau mereka kecewa akhirnya biarlah hari ini menjadi milik kita. Aku membawa mereka jalan kaki jauh sekali mungkin 2 km kami berjalan. Jauh bukan, bahkan aku sudah memprediksi kaki ku akan sakit luar biasa nanti malam. Kami melihat pemandangan senja, tertawa, berlari, mengobrol bersama, setidaknya aku harus melupakan segala kepenatan hari ini.
Malam harinya diriku sangat pusing, pikiranku masih kacau. Bagaimana mereka akan tampil dengan segala hal yang juga kacau. Doa, usaha semua ku kerahkan. Bibir ini tak berhenti meminta pertolongan Yang Maha Kuasa. Ketakutan sering kali datang menghantui ditambah dengan menyebarnya banyak gosip murahan tentang posko kami. (oh ya kalian harus tau bahwa dimanapun kalian berada pasti akan banyak gosip apalagi serumah dengan teman-teman selama berminggu-minggu dan gosip dari posko yang lain. makanya aku itu suka banget quotes Ali bin Abi Thalib yang bunyinya "Tidak perlu menjelaskan dirimu kepada siapapun , karena yang membencimu tak mempercayainya dan yang menyukaimu tak perlu itu" adem banget yah quotesnya.
Lama sekali kami memikirkan hal ini. Keesokan malam kami bertemu ustadzah. Alhamdulillah ustadzah mau memberi sedikit kelonggaran rasanya beban ini sedikit ringan.
Sebelum penutupan mereka akan melakukan penampilan di Masjid Nurul Huda saat acara Maulid Nabi yah anggap aja sebagai gladi bersih. Mereka tampil namun sesekali mereka melakukan kesalahan. Selesai tampil eh mereka minta maaf gara-gara banyak salahnya ada yang gugup, takut, langsung lupa. Kesel sih, tapi aku sangat tau mereka sudah berusaha aku pun juga begitu kalau pertama-tama tampil.
Kawan dari cerita sederhana ini sebenarnya aku ingin kita menyadari bahwa peran guru terhadap hidup kita sungguh luar biasa. Mereka mengajar dengan tulus. Saydina Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu mengatakan "Dia yang mengajariku seayat ilmu, sungguh memiliki hak untuk memperbudakku." Jelas sekali ya bahwa orang yang sholeh akan sangat memuliakan guru-nya. Semoga kita selalu bisa menghormati serta mendoakan guru kita dan kita bisa menjadi pribadi yang selalu tulus dalam melakukan sesuatu. Aamiin...
Komentar
Posting Komentar